Dakwah  

Kebahagiaan Sejati Hanya Dalam Iman & Amal Saleh

Nikmatnya minum bukan ketika kita bisa minum jus, susu atau madu. Nikmatnya minum justru didapat ketika kita sangat kehausan. Berjalan di gurun pasir yang panas sudah 3 hari tidak minum, ketika berjumpa dengan minuman walaupun itu hanya air putih biasa akan luar biasa nikmat. Tetes demi tetes yang diminum begitu nikmat karena merasa mendapat kehidupan baru. Bahkan uang, emas dan permata rela kita tukar dengan seteguk air ketika air sudah langka.

Nikmatnya makanpun seperti itu bukan ketika kita di hadapankan dengan hidangan yang lezat dan spesial. Tapi nikmatnya makan akan didapatkan ketika kita dalam keadaan yang sangat lapar.

Nikmatnya tidurpun akan didapat bukan ketika tidur di kasur yang empuk dan ruangan yang sejuk tetapi ketika dalam keadaan ngantuk yang mendalam, di situlah nikmatnya tidur akan didapatkan.

Sayyidima Bilal r.a. mendapatkan nikmatnya iman ketika badannya ditimpa dengan batu di panas yang terik dan dicambuk. Saat itu dari mulutnya terucap Ahad…, Ahad…, Ahad….

Iman akan terasa manis ketika terlihat tersiksa dalam pandangan manusia tapi ketika itulah kita dekat dengan Allah SWT.

Cinta ibu begitu besar kepada anaknya karena di balik itu ada pengorbanan yang luar biasa. Mengandung, menyusui, merawat, membesarkan. Bertaruh nyawa antara hidup dan mati ketika melahirkan.

Suami yang sayang kepada istrinya akan berkorban waktu, harta, fikiran, perasaan dan sepenuh jiwanya. Istri yang sayang kepada suamipun demikian. Semakin banyak pengorbanan maka akan semakin besar rasa cinta. Karena memang cinta butuh pengorbanan.

Iman akan terasa manis ketika kita banyak berkorban untuk agama Islam.

Uang 1 milyar dengan meninggalkan shalat subuh, orang yang lemah imannya akan memilih uang.
Tetapi berbeda dengan ahli iman jangankan 1 milyar, 1 triliunpun akan ditolak demi shalat subuh berjamaah. Empat bulan imannya sudah ditempa di medan dakwah datang dari pintu ke pintu, lorong ke lorong, kampung ke kampung, melewati batas negeri yang sangat jauh. Mengajak orang lain untuk shalat, untuk taat kepada penciptanya, Allah SWT.

Iman itu manis, tapi perjuangannya terlihat pahit dalam pandangan manusia.
Raga yang sakit harus rela minum obat yang pahit supaya sembuh.
Iman yang sakit juga harus rela menempuh pahitnya mujahadah (susah payah) memperjuangkan agama Islam supaya imannya sembuh, sehingga mengerjakan amal agama Islam akan sangat terasa manis dan nikmat yang luar biasa. Tidak lagi menjadi kewajiban yang menyiksa, akan tetapi menjadi kebutuhan yang apabila tidak dikerjakan merasa sangat-sangat kehilangan.

Madinah, 17 September 2026
Mahodum Hasibuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *