Keragaman Tarekat

Tasawuf dapat dipandang sebagai sebuah pohon yang hidup, dengan akar yang menjangkau hingga ke warisan spiritual Nabi Muhammad SAW. Dari satu akar tersebut, tumbuhlah banyak dahan selama berabad-abad (berbagai tarekat), guru yang berbeda-beda, watak kerohanian yang beragam, serta beraneka cara dalam mengekspresikan perjalanan esensial yang sama: penyucian jiwa, dzikir, cinta, dan pendekatan diri kepada Allah Yang Mahakuasa.

Setiap dahan tumbuh dari hati yang hidup, yang telah mengecap manisnya kedekatan Ilahi. Dahan-dahan tersebut tidak perlu dipahami sebagai tanda perpecahan. Sebaliknya, mereka dapat dilihat sebagai manifestasi dari kelimpahan yang melaluinya tradisi spiritual yang sama ini mekar di berbagai penjuru negeri, bangsa, dan generasi.

Syaikh An-Niffari berkata:

“Yang Mahabenar (Al-Haqq) itu Mahaluas tanpa batas, setiap maqam menampakkan satu wajah-Nya. Barang siapa yang berhenti pada satu wajah, ia menolak wajah-wajah yang lain.”

Maka, ketika seorang guru baru atau arus spiritual baru muncul, hal itu tidak selalu menandakan pemutusan dari tradisi. Bisa jadi itu adalah keharuman lain dari mawar yang sama, atau aliran sungai lain yang mengalir dari samudra luas warisan kerohanian.

Oleh karena alasan ini, di sepanjang sejarah tasawuf, sebagian penuntut ilmu spiritual mendapatkan manfaat dari lebih dari satu silsilah, atau menjaga hubungan penuh kasih dan hormat dengan guru-guru di luar tarekat mereka sendiri. Kendati demikian, tujuannya bukanlah untuk mengumpulkan pertalian tarekat, melainkan untuk mencari penyucian jiwa dan kedekatan kepada Allah Yang Mahakuasa.

Sayyid Ahmad Al-Badawi dari Mesir mengajarkan:

“Jangan kurung Samudera di dalam cangkirmu, biarkan setiap tepian mengajarimu tentang pasang surut airnya.”

Keterbukaan seperti ini, apabila dibimbing oleh syariat, adab, dan keikhlasan, dapat melindungi seorang salik dari identitas yang sempit atau objek kebanggaan sektarian.

Persahabatan (suhbah) sufi yang otentik tidak didasarkan pada kultus individu. Seorang syaikh dihormati, dicintai, dan diagungkan karena ia menunjukkan jalan bagi sang murid untuk menuju Allah Yang Mahakuasa, bukan menuju dirinya sendiri.

Para sufi dari satu tarekat secara historis sering saling berkunjung satu sama lain, mengambil manfaat dari persahabatan mereka, dan mengakui kebenaran spiritual di mana pun Allah Yang Mahakuasa menampakkannya. Kharisma seorang guru bukanlah milik pribadi yang berdiri sendiri, ia adalah amanah dan karunia dari Allah Yang Mahakuasa.

Mursyid sejati tidak mengajak muridnya untuk terikat pada dirinya sendiri. Ia mengajari hati bagaimana cara mengingat Dzat Yang Maha Tunggal.

Tarekat-tarekat mungkin berbeda dalam metode, wirid, istilah, warna, adat istiadat, dan penekanan spiritualnya. Namun selama mereka tetap berakar pada Al-Qur’an, sunnah, syariat, adab yang tulus, dan penyucian hati, perbedaan di antara mereka tidak boleh menjadi ajang permusuhan.

Dahannya bisa jadi banyak, namun akarnya satu. Sungai-sungainya boleh mengambil alur yang berbeda, namun samuderanya tetap satu.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *