Kita hidup di dunia, maka dunia tetap harus dijalani. Kita perlu bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, menuntut ilmu, dan memenuhi berbagai tanggung jawab. Tetapi jangan sampai semua itu membuat hati sepenuhnya terikat kepada dunia hingga lupa bahwa kehidupan ini hanyalah perjalanan menuju akhirat.
“Duduklah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan qalbumu bersama kehidupan akhirat.” Pesan ini mengajarkan bahwa yang penting bukan seberapa banyak kita memiliki dunia, melainkan di mana hati kita meletakkan dunia tersebut. Harta boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menjadi penguasa hati.
Seseorang boleh memiliki jabatan, rumah yang baik, pekerjaan yang mapan, dan kehidupan yang berkecukupan. Semua itu tidak menjadi masalah selama ia menyadari bahwa semuanya adalah amanah dan sementara. Ketika dunia datang, ia bersyukur. Ketika dunia pergi, ia tidak kehilangan seluruh dirinya.
Lalu, “rasamu bersama Allah.” Artinya, dalam setiap keadaan, hati tidak kehilangan hubungan dengan-Nya. Ketika bahagia, ia ingat bersyukur. Ketika sedih, ia ingat bersabar. Ketika berhasil, ia tidak sombong. Ketika gagal, ia tidak berputus asa. Karena ia tahu bahwa keadaan boleh berubah, tetapi Allah tidak pernah meninggalkannya.
Pada akhirnya, menjadi dekat dengan Allah bukan berarti harus meninggalkan dunia. Justru kita belajar hidup di tengah dunia tanpa membiarkan dunia tinggal terlalu dalam di hati. Tangan bekerja di dunia, hati merindukan akhirat, dan jiwa selalu mengingat Allah. Itulah keseimbangan: memiliki dunia secukupnya, mempersiapkan akhirat sebanyak-banyaknya, dan menjadikan Allah sebagai tempat hati kembali dalam setiap keadaan.
Wallahu ‘Alam.
#islam #sufi #rumi #tasawuf






