Nasihat bijak Syekh Bahauddin An-Naqshabandi tersebut, ”Janganlah engkau sibuk mencari ridha manusia, karena itu akan menghilangkan kebebasan hatimu. Sibuklah mencari ridha Allah SWT, karena dengan itu hatimu menjadi tenang, lapang, dan dekat dengan-Nya. Ketahuilah, bahwa hakikat kebahagiaan bukan pada apa yang kamu miliki, tetapi pada hati yang selalu bergantung kepada Allah SWT.”
Makna dan Penjelasan
Nasihat ini mengandung dua pesan spiritual mendalam mengenai kemerdekaan jiwa dan hakikat kebahagiaan:
1. Kemerdekaan Hati dari Belenggu Penilaian Manusia
Mengejar keridhaan dan pengakuan manusia akan menjadikan diri kita “peliharaan” atau tawanan dari ekspektasi orang lain. Sikap ini merampas kebebasan hati karena kita akan selalu merasa takut dinilai, cemas, dan tidak pernah merasa cukup.
2. Ketenangan dalam Keridhaan Allah SWT
Ketika fokus hidup dialihkan untuk mencari ridha Allah SWT, hati menjadi tenang dan lapang. Sebab, Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Mengetahui niat, dan tidak pernah memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya.
3. Hakikat Kebahagiaan Bukan pada Kepemilikan Materi
Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta, takhta, atau aset yang dimiliki, tidak pula wanita (bagi laki-laki). Kebahagiaan hakiki bersumber dari kondisi batin, yaitu hati yang terikat dan selalu bersandar (tawakal) kepada Allah SWT.






