Oleh: Abdur Rahman El Syarif (Santri Ponpes Pasulukan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Al Masykuriyah, Condet, Jakarta)
Setelah seorang salik menempuh maqam wukuf, diam dalam pelukan Allah dan tenggelam dalam lautan kehadiran-Nya, ia melangkah menuju maqam yang lebih halus, lebih lembut, dan lebih bergetar: Muraqabah Ahadiyah Af‘al, maqam kesadaran bahwa setiap hembus napas, setiap gerak, dan setiap keadaan diri senantiasa berada dalam pengawasan dan pandangan Allah.
Muraqabah bukan sekadar mengingat Allah, itu adalah menyadari dengan sepenuh jiwa bahwa Allah sedang melihatmu, bukan dari jauh, tetapi dari dalam dirimu sendiri. Inilah maqam ihsan yang disabdakan Rasulullah ﷺ:
“أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك.”
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
HR. Muslim
Dalam maqam ini, pandangan seorang salik tidak lagi tertuju ke luar. Ia memalingkan mata batinnya ke dalam, hingga menemukan bahwa setiap lintasan pikiran, setiap getar hati, bahkan diam yang paling sunyi pun, semuanya disinari oleh pandangan Allah.
Allah berfirman:
“أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى”
“Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?”
QS. Al-‘Alaq [96]: 14
Ayat ini menjadi gema yang tak henti di ruang qalbu seorang salik. Setiap kali ia menoleh, setiap kali ia berbuat, ia merasa diperhatikan, bukan dengan rasa takut, tetapi dengan rasa diawasi oleh Kasih yang tiada batas. Sebab pengawasan Allah bukanlah ancaman, melainkan pelukan penuh cinta dari Sang Maha Menyaksikan.
Dalam maqam muraqabah, seorang murid mulai hidup dalam pantulan cahaya mata Allah. Ia berjalan dengan rasa diawasi, duduk dengan rasa diawasi, bekerja, diam, bahkan bernafas pun dalam pandangan Allah. Maka tiadalah ruang bagi kelalaian. Hatinya senantiasa berbisik dalam diam: “Allah melihatku, Allah bersamaku, Allah menyaksikanku.”
Ketika kesadaran ini telah menembus ke dalam lubuk ruhani, maka hilanglah kebiasaan menilai amal berdasarkan pandangan manusia. Yang dicari bukan lagi “bagaimana aku dilihat makhluk”, melainkan “bagaimana aku dilihat Allah.” Dalam setiap amal, seorang salik hanya ingin indah di mata Tuhannya, bukan di mata dunia.
Muraqabah melahirkan mata hati yang senantiasa terbuka, dan dari mata itu mengalir rasa haya’ ilahi, malu yang suci di hadapan Allah. Ia malu berbuat dosa, malu berbicara sia-sia, malu menurunkan pandangan hatinya dari kehadiran-Nya. Rasa malu ini bukan ketakutan, melainkan kemuliaan. Bukan keterpaksaan, melainkan kehormatan ruh yang mengenal Tuhannya.
Para guru Naqsyabandiyah menasihati: “Barang siapa ingin mencapai maqam muraqabah, maka kurangi makan, tidur, dan bicara yang sia-sia, perbanyak shalat sunnah dan taubat. Sebab hati yang berat oleh dunia tak akan sanggup melayang dalam pengawasan Ilahi.”
Dalam maqam ini, seorang salik belajar menjaga istiqamah batin, tidak berpaling dari Allah walau sekejap, baik di tengah kesunyian malam maupun di tengah hiruk pikuk dunia. Ia hidup dengan diam yang hidup, diam yang berdzikir, diam yang menjadi saksi atas kehadiran Allah di setiap detik hidupnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“اتق الله حيثما كنت.”
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”
HR. Tirmidzi
Inilah inti dari muraqabah: takwa yang disinari kesadaran, ibadah yang hidup dalam pandangan Allah. Salik yang telah merasakan maqam ini tak lagi beribadah karena kewajiban, tapi karena cinta. Ia tak lagi berzikir karena perintah, tapi karena rindu.
Waktu menjadi saksi, bahwa hidupnya kini adalah dzikir yang bernafas, ibadah yang tak terlihat oleh manusia namun bercahaya di sisi Tuhan.
Setiap helaan napasnya menjadi lafadz sunyi: “Engkau melihatku, Ya Rabb… dan akupun menyadari-Mu.”
Wallahu a’lam.
